Kamis, 12 Mei 2016

       “Dalam hidup, setiap manusia diberikan kelebihan dan kekurangan, jika tidak ada keduanya maka tak akan keseimbangan atau hanya memilih salah satunya saja. Begitu pula dengan kekayaan alam di Indonesia, ada yang indah dan tak terlihat menarik. Hal tak menarik didasarkan karena kurang adanya rasa bersyukur pada Sang Pencipta”
             Berkunjung ke Semarang, pasti yang ada di benak kita adalah mempersiapkan diri untuk menjelajahi sudut-sudut kota Semarang mulai dari Lawang Sewu, Sampookong,  Masjid Agung Jawa Tengah dan Pagoda Buddhagaya Watugong, lalu mengunjungi Semarang Atas (Kawasan Ungaran, contoh Umbul Sidomukti) yang membuat kita terkagum-kagum akan keindahan alam bumi pertiwi yang mampu membuat mata tak ingin lepas dari pandangan dan kesejukan bagi tubuh untuk istirahat sejenak di daerah tersebut.
            Tak kalah menariknya ketika mengunjungi kawasan ungaran yaitu di desa promasan yang membuat kita semakin terkagum-kagum dengan kesejukan, dan kehebatan nenek moyang kita. Bulan Agustus 2014, Hayyu berserta Komunitas 1000 guru telah mengadakan Traveling dan Teaching di Desa tersebut. Kegiatan tersebut berlangsung selama 3 hari 2 malam. “Bagiku, pengalaman dan cerita yang kudapat dari kegiatan tersebut adalah akan keramahtamahan warga promasan, keceriaan yang diberikan oleh adik-adik disana meskipun harus menempuh kesekolah dengan berjalan kaki, tak kalah romantisnya akan kehangatan kabut dan kesejukan alam yang dirasakan di desa tersebut” tutur Hayyu.
            Desa promasan merupakan desa kecil yang mulai menjadi desa wisata yang lokasinya berada di bawah puncak Gunung Ungaran. Dari segala sisi dan penjuru seolah tak pernah habis mata ini memandang hamparan hijau yang menyelimuti Gunung Ungaran. Gunung ungaran terdapat keindahan dan kekayaan kebun teh dan kopi. Sejauh mata memandang, sungguh sangat nikmat atas kekayaan yang diberikan Sang Pencipta untuk bumi pertiwi. 

Wisata Alam Kalibiru adalah wisata dengan pemandangan alam pegunungan, terletak di perbukitan Menoreh Kulon Progo, Yogyakarta. Tempat wisata ini dibuka pada tahun 2012. Satu tahun belakangan ini Kalibiru menjadi wisata yang sedang trend di Yogyakarta karena efek dari masyarakat dan artis-artis yang memposting fotonya saat di Kalibiru ke media sosial. Akhirnya, Kalibiru pun saat ini menjadi tempat wisata alam yang digandrungi oleh masyarakat.

Untuk sampai ke Kalibiru, disarankan datang dengan membawa kendaraan pribadi baik motor atau mobil, karena jalan masuk dari Waduk Sermo menuju ke Kalibiru jauh dan tidak ada transportasi umum. Transportasi ojek hanya ada ketika mendekati kawasan Kalibiru. Kondisi di Kalibiru jalannya sudah beraspal, namun berliku-liku dengan tanjakan-turunan yang sangat curam. Di setiap beberapa meter, terdapat petugas (yang merupakan masyarakat sekitar) yang akan menjadi pengarah jalan menuju ke Kalibiru.


Selasa, 10 Mei 2016

Anyer adalah sebuah pantai di Provinsi Banten yang cukup dikenal oleh banyak orang. Hal ini dikarena Banten merupakan lokasi strategis untuk berwisata ria bersama keluarga atau sanak saudara. Lokasinya yang dekat dengan Kota Jakarta karena berada di Kecamatan Anyer ini membuat banyak pengunjung yang datang ke lokasi ini untuk berbagai kegiatan baik itu hanya berwisata, urusan kantor sambil menikmati keindahan pantai atau bahkan untuk berbulan madu. Meskipun begitu, pantai anyer bukan pantai cerita, karena lokasinya berbeda meski memang cukup dekat (dari sumber pantaianyer.net)

​Banyaknya Cotage, Saung, Villa dan sebagainya di dekat Pantai membuat banyak pengunjung yang hadir untuk melakukan berbagai aktivitas mereka. Dewi, penulis artikel ini sendiri sudah sering pergi ke Pantai Anyer, karena selain lokasinya dekat rumah, ia juga sering pergi ke Anyer untuk berlibur tahun baru bersama keluarga atau mengikuti ayahnya berlibur sekaligus urusan kantor. Suasana Anyer kapan pun memang sangat riuh dan ramai, apalagi jika tahun baru.


Para pendaki gunung biasanya mendaki gunung yang sudah tak asing lagi bagi kita di Pulau Jawa seperti Gunung Gede, Gunung Papandayan, Gunung Pangrango, Gunung Salak. Namun, apakah sudah pernah mencoba mendaki gunung di sekitar Jabodetabek? Apakah ada gunung di sana? Jawabannya ya, tepatnya di daerah Parung, Bogor.

Mungkin beberapa orang ada yang belum tahu mengenai gunung yang satu ini, namanya Gunung Munara. Gunung Munara terletak di wilayah Kampung Sawah, Rumpin, Bogor. Untuk menuju ke Gunung Munara, kita dapat menggunakan transportasi umum, motor, hingga mobil pribadi. Dengan berbekal tas ransel berisi makan siang dan air minum, kita pun siap menjelajahi gunung tersebut. Kita dapat melakukan pendakian ini bersama keluarga atau dengan para sahabat.
Kenapa harus mencoba mendaki ke Gunung Munara?


Rabu, 04 Mei 2016

Berpetualangan ke desa terluar memberikan sensasi tersendiri bagi penulis. Desa Camar Bulan menjadi hot topic beberapa waktu lalu karena permasalahan pencabutan patok perbatasan yang memisahkan wilayah Indonesia dan Malaysia. Niat semula hanyalah ingin melakukan tinjauan untuk penelitian lapangan tetapi karena pesona alam karya Tuhan, prihal itu bertransformasi menjadi suatu keinginan untuk menjajal perjalanan kesana.


Petualangan dimulai pukul 00.00 dari Kota Pontianak menuju Kabupaten Sambas dengan menggunakan mobil pribadi dan menempuh waktu ± 5 jam. Penulis bersama keluarga sempat beristirahat di Sambas selama satu jam. Perjalanan dilanjutkan menuju Kecamatan Paloh dan melalui track jalan beraspal yang rusak berat akibat banyaknya truk-truk pengangkut kelapa sawit yang melewati jalan itu. Di tengah-tengah, kami menyeberang menggunakan feri angkutan sungai menuju Teluk Kalong.

Sesampainya di seberang,  dilanjutkan menuju pusat Kecamatan Paloh. Semilir angin serta suasana alam yang bersahabat membius penulis sehingga penulis tidak merasakan letih meski melalui jarak yang berkilo-kilo dan beberapa kali menerjang jalanan yang rusak bahkan belum beraspal. Setibanya di Pelabuhan Penyeberangan Sumpit, penulis kembali tersadar harus kembali menyeberang luasnya Sungai Paloh Ceremai selayaknya haluan laut. Tak ada lagi kapal feri atau kapal-kapal layak yang dapat menyeberangkan penulis beserta keluarga, yang tersedia sekadar kapal tongkang milik rakyat yang hanya dapat menampung dua mobil seukuran kijang. Tekad kami semakin kuat agar dapat mencapai tempat tujuan meski harus menunggu waktu hampir satu jam karena air pasang sungai tidak mampu mendaratkan kapal dengan baik.

Tepat pukul 11.00 WIB, kapal akhirnya berhasil mendarat dan menaikan mobil kami. Setelah dirasa aman, kapal menyeberang menuju Pulau Temajuk. Selama dalam kapal, bibir ini tak lepas-lepasnya memuji keindahan panorama Pegunungan Kinibalu yang menjadi saksi alam Pulau Kalimantan. Tidak terlalu lama untuk tiba di  seberang sungai, tepatnya Dusun Ceremai dan kami kembali melanjutkan lawatan.

Ekspedisi tak lantas menjadi lebih ringan karena kali ini mobil kami harus menembus tanah kuning yang jika hujan akan berubah menjadi gumpalan lumpur dengan hamparan hutan liar di kiri-kanan jalan. Mata penulis berkali-kali terpejam karena hampanya suasana pemandangan. Melewati ¾ perjalanan, kami menjumpai Tugu Garuda, simbol garda depan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Nurani ini membuncah bahagia dan bangga ketika mengamati Tugu Berwarna Keemasan tersebut. Sikap patriotisme kami membumbung tinggi serta terselip harapan untuk membagi apa yang kami khususnya penulis rasakan kepada publik di luar sana.

 Kami kemudian meneruskan penjelajahan hingga akhirnya sampai di Desa Camar Bulan. Kami diarahkan menuju Dermaga Bibir Pantai yang membingkai indah Camar Bulan. Kami serentak memuji kebesaran karya Tuhan dan bergegas menuju pantai. Penulis sempat bertanya pada beberapa warga sekitar yang ramah luar biasa mengenai kondisi desa mereka. Dengan hati lapang, mereka tidak menyalahkan pemerintah karena kurangnya perhatian serta pembangunan di desa itu. Keinginan mereka hanyalah agar mereka tetap selalu menjadi bagian Ibu Pertiwi meski berkali-kali wilayah mereka di klaim oleh negara tetangga, Malaysia.

Pantai alami yang dihiasi buliran pasir putih dan bentangan laut lepas biru kejernihan, bertemu langsung dengan Laut Natuna.  Sebuah dermaga terbangun kokoh, yang membuat pengunjung dapat menikmati keindahan alam dengan puas. Jika musim penyu tiba, pantai akan dipenuhi dengan gelombang migrasi penyu untuk bertelur. Meski terpencil dari keriuhan kota, Desa Camar Bulan memiliki beberapa penginapan dan cottege yang memadai dilengkapi penyewaan alat snorkeling bagi yang ingin menikmati wisata bawah laut.

Setelah asyik bercakap-cakap dan mengambil gambar, penulis diajak oleh salah seorang warga untuk mengelilingi desa mereka. Menggunakan motor ala kadarnya, perjalanan menempuh jembatan tradisional milik nelayan serta kontur alam yang terjal, hingga akhirnya kami tiba di Teluk Atong. Setelah mengambil beberapa gambar, penulis kembali bertolak ke dermaga Camar Bulan.


 Sumber Gambar: Mursalin
Jakarta, kota yang sangat terkenal dengan kesibukan sehari-harinya sangatlah membuat siapa saja mengharapkan berada ditempat liburan setiap harinya, tentunya untuk melepaskan penat. Belum banyak yang mengetahui bahwa di Jakarta terdapat sebuah wilayah kecil yang menyugukan panorama alam yang luar biasa indah dan itu adalah Pulau Seribu. Pulau Seribu yang terdiri atas gugusan pulau-pulau kecil yang jaraknya tidak terlalu jauh menyajikan pemandangan yang berbeda dengan Kota Jakarta.

Pulau Seribu saat ini merupakan salah satu destinasi wisata favorit di JABODETABEK, dikarenakan hampir setiap minggunya ribuan wisatawan lokal menyerbu tempat-tempat di Pulau Seribu. Terdapat beberapa pulau yang menjadi pusat tujuan wisata di pulau seribu diantaranya : Pulau Pari, Pulau Tidung, Pulau Harapan, Pulau Pramuka, Pulau Untung Jawa. Pulau-pulau diatas adalah tempat yang indah namun anda tidak perlu merogoh kantong anda terlalu dalam dikarenakan paket traveling ke pulau-pulau tersebut mulai dari 300-800 ribu per orang dan itupun dihitung dari banyaknya orang yang ikut, semakin banyak yang ikut maka harga paket akan semakin murah. Dan jika anda ingin berwisata sambil mengenal lebih dekat alam maka di Pulau seribu terdapat satu pulau yaitu di Pulau Rambut.

Pulau Rambut merupakan salah satu pulau kecil yang saat ini telah menjadi suaka margasatwa, di dalamnya anda akan disuguhkan dengan berbagai jenis burung dari berbagai spesies dari data tahun 2014 Suaka Margasatwa. Pulau Rambut memiliki tingkat keanekaragaman tinggi khususnya untuk jenis burung. Pada musim berbiak, di pulau ini bisa terdapat sekitar 24.000 spesies burung dan 4.500 spesies burung pada musim lainnya,sehingga sering kali Pulau Rambut disebut dengan Pulau Surga Burung (Rambut Island of Sanctuary Birds), orang Belanda menjulukinya Nidelberg. Adapun jenis burung yang terdapat di suaka margasatwa ini seperti Cangak Abu (Ardea cinerea), Pecuk Ular (Anhinga melanogaster), Bluwok (Mycteria cinerea), Kowak Malam (Nycticorax nicticorax), Cangak Merah (Ardea purpurea), Kuntul besar (Egretta alba), Kuntul kecil (Egretta garzetta), Kuntul sedang (Egretta intermedia), Kuntul karang (Egretta sacra), Kuntul Kerbau (Bubulcus ibis), Roko-roko (Plegadis falcinellus), Pelatuk Besi (Threskiornis melanocephalus) dan sebagainya.


Selasa, 03 Mei 2016

*Mungkin mengandung spoiler!
dok. papasemar.com


Sinopsis:
Sudah 14 tahun berlalu,Rangga dan Cinta terpisahkan jarak meski saling mencintai. Dilematis yang melanda kedua sejoli tentu begitu dahsyat apalagi Rangga tak pernah berkabar sejak satu purnama itu. Hingga akhirnya dalam rentang waktu yang jauh itulah Rangga dan Cinta pun akhirnya memiliki kesempatan bertemu kembali. Banyak sekali perubahan yang terjadi dalam hidup mereka. Tentu, dalam waktu 14 tahun itu, pasti sudah banyak perubahan mulai dari tempat tinggal Cinta, pekerjaan dan sebagainya. Rangga mencari Cinta. Namun seolah Cinta tak ingin bertemu dengan Rangga. Benci tapi rindu, itulah kemelut dalam sebuah kisah cinta yang belum juga usai dari sekian purnama yang terlewat begitu saja. Apalagi, semua keadaan telah berubah. Trian, sosok baru yang hadir dalam hidup Cinta. Ditambah lagi bumbu-bumbu penyedap dalam hidup Rangga dan kawan-kawan cinta yang ikut membuat warna cerita ini. Akankah Cinta dan Rangga kembali bersama, menyemai cinta dan menyatukan rindu yang sesak dalam dada mereka namun semua situasi telah berubah? Bagaimana kisah cinta dan rangga selanjutnya?

 Sebuah film legendaris yang diproduseri oleh Mira Lesmana dan didirectori oleh Riri Riza kembali membuat bioskop tanah air bergemuruh. Para penonton berbondong-bondong hadir untuk duduk menonton Ada Apa Dengan Cinta 2 di seluruh bioskop tanah air. Tak hanya kaula muda, namun tentu saja karena film ini sudah lama sekali, Ibu-ibu dan Bapak-bapak atau dibilang pasutri pun ikut bermesra-mesraan menonton dengan membawa anaknya.


Menusa Community

Menusa Community

NULIS BABE NEWS

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis
Mengintip Nusantara. Diberdayakan oleh Blogger.

Total Pengunjung

Projek Kami

Sekolah Online Menusa Community

Email Kami

Kirimkan kritik dan saran anda ke mengintip nusantara redaksi di mengintipnusantararedaksi@gmail.com

Tim Menusa

Tim Menusa
Semua isi web ini dikelola oleh tim menusa creative management. Hubungi Menusa Creative Management sebagai media partner anda. 08992458233